Sabtu, 03 Maret 2012

Kisah Perjalanan Hidup Uang Seribu dan Seratus Ribu


Pembaca yang budiman, kita ketahui bersama bahwa uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapi uniknya mengalami nasib yang berbeda. Keduanya sama-sama dicetak di PERURI dengan bahan dan alat-alat khusus. Pertama kali keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik. Namun tiga bulan setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu bertemu kembali di dompet seseorang pemuda dalam kondisi yang berbeda.

Kemudian diantara kedua uang tersebut terjadilah percakapan, uang Seratus Ribu berkata pada uang Seribu, ”Ya,ampiiiuunnn... dari mana saja kamu, kawan? Baru tiga bulan kita berpisah, kok kamu udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan bau! Padahal waktu kita sama-sama keluar dari PERURI, kita sama-sama keren kan, ada apa denganmu?”

Uang seribu menatap uang Seratus Ribu yang masih keren dengan penuh rasa. Sambil mengenang perjalanannya, uang Seribu berkata :“Ya, beginilah nasibku kawan. Sejak kita keluar dari PERURI, hanya sesekali saja saya berada di dompet yang bersih dan bagus, selebihnya di tangan tukang becak, tukang sayur, penjual ikan dan di tangan pengemis."

Uang Seratus Ribu mendengarkan dengan prihatin.: “Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku. Kalau aku ya,sejak kita keluar dari PERURI itu, aku disimpan di dompet kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm… dompetnya harum sekali.

Setelah dari sana, aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5, masuk kerestoran mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis. Pokoknya aku selalu berada ditempat yang bagus. Jarang deh aku di tempat yang kamu ceritakan itu. Dan aku jarang lho ketemu sama teman-temanmu.”

Uang Seribu terdiam sejenak. Dia menarik nafas lega, katanya :“Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman sementara aku sebaliknya. Tapi ada satu hal yang selalu membuat aku senang, bangga dan bersyukur menjadi uang Seribu!”

“Kenapa bisa begitu kawan?” uang Seratus Ribu penasaran
 Uang Seribu bertanya, "Seringkah engkau mampir ditempat ibadah?"
Seratus Ribu menjawab, "Jarang banget bahkan bisa dibilang tidak pernah."

Seribu pun berkata lagi, " ketahuilah walaupun keadaanku seperti ini adanya, setiap Jum'at aku selalu mampir di masjid dan di tangan anak-anak Yatim. “Aku sering bertemu teman-temanku di kotak-kotak amal, kencleng amal peduli bencana atau ditempat-tempat ibadah lain. Hampir setiap minggu aku mampir ditempat-tempat itu.”

Aku tidak dipandang manusia bukan sebuah nilai tapi yang dipandang adalah sebuah manfaat. Akhirnya menangislah uang Sertus Ribu karena merasa besar, hebat, tinggi tapi tidak begitu bermanfaat selama ini.

Pembaca yang budiman,  akhir dari tulisan ini, saya  mencoba menyimpulkan  bahwa bukan seberapa besar penghasilan atau uang yang Anda miliki, tapi seberapa bermanfaatnya penghasilan itu. Karena kekayaan bukanlah untuk kesombongan, kekayaan adalah sebagai sarana untuk kita dalam mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang selalu mensyukuri nikmat dan memberi manfaat untuk semesta alam serta dijauhkan dari sifat sombong.

Semoga Bermanfaat. Bagikan kisah ini kepada saudara, sahabat, teman dan kepada siapa pun untuk syiar kebaikan dan kebenaran.

Sumber: Kumpulan Motivasi, Aries S. Priyono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar